Santa Maria   +  Yohji Yamamoto

Creative Poeple Behind Famous Fashion Labels


The Master
Behind Most Famous Fashion Label in The World
Oleh Juris Bramantyo
*) beberapa bagian dari artikel ini diterbitkan pada Plaza Ambarrukmo Magazine edisi Desember 2016 - Januari 2017. 

Prada, Gucci, Dior, Dolce & Gabbana, Burberry dan Louis Vuitton mungkin sudah sangat familiar di telinga kita. Apalagi jika kita memang menyukai fashion, label-label fashion tersebut mempunyai pengaruh besar pada trend dan industri fashion.
Tapi siapakah orang-orang hebat dan kreatif di balik label-label terkemuka tersebut?


LONDON

Christopher Bailey - Burberry 
Label kebanggaan Inggris, Burberry, tampaknya berada di tangan yang tepat. Christopher Bailey tak hanya menjabat sebagai creative director sejak 2004, namun juga ditunjuk menjadi chief executive officer (CEO) sejak 2009 hingga sekarang.
Pria kelahiran 19 Mei 1971 ini bergabung dengan Burberry sejak 2001 setelah sebelumnya bekerja untuk rumah mode Gucci dan Donna Karan. Di tangannya, Burberry menjelma menjadi raksasa bisnis fashion dunia. Tak hanya sebatas trench coat yang ikonik namun merambah hingga tas, asesoris dan parfume di lini pria dan wanita. Desainnya yang selalu mengangkat warisan budaya Inggris dipadukan dengan teknologi menciptakan siluet yang khas; lean and long.
Prestasi Bailey tak hanya di visinya tentang desain, namun juga kepiawaiannya dalam menaklukkan pasar dan kreativitasnya dalam mengawinkan fashion dengan teknologi berbalut entertainment. Pendekartannya pada dunia digital pun membuat brand klasik ini tetap digemari kalangan yang lebih muda.
Bailey pun diganjar dengan banyak penghargaan prestisius. Diantaranya dua kali Designer of The Year British Fashion Council, masing-masing di tahun 2005 dan 2009. Serta tiga kali Menswear Designer of The Year; 2007, 2008 dan 2013. Tak hanya itu publik fashion Amerika bahkan menganugerahinya International Designer Award CFDA 2010. 


Sarah Burton - Alexander McQueen
Lahir di Inggris tahun 1974, Sarah Burton adalah nama dibalik kesuksesan label Alexander McQueen. Burton nampaknya memang sangat berjodoh dengan label tersebut. Berawal dari internship saat masih duduk sebagai mahasiswa di Royal Saint Martin London, ALexander McQueen lalu mengangkatnya sebagai parter desain segera setelah dia lulus.
Sebelum kematian tragis Alexander McQueen pada 2010, mungkin publik tak banyak yang tau siapa Sarah Burton. Namun saat perusahaan yang menaungi memutuskan untuk mempertahankan label ini dan menunjuk Sarah Burton sebagai creative director, namanya mulai dikenal banyak orang.
Ciri khas desain Burton yang selalu menggabungkan antara personifikasi malaikat dan iblis serta kemampuan craftsmanship-nya yang luar biasa. Tanpa meninggalkan ciri khas mendiang Alexander McQueen yang penuh fantasi dan mengagungkan tubuh wanita, label Alexander McQueen meraih kesuksesan besar sebagai salah satu label paling ikonik di dunia.
Sarah Burton menjadi buah bibir seluruh dunia saat Keluarga Kerajaan Inggris mengumumkan bahwa gaun pengantin Catherine Middleton dan prince William adalah desainnya. Dedikasinya di bidang fashion pun diganjar dengan Designer of The Year Award pada 2011 oleh British Fashion Council. Dan Kerajaan Inggris menganugerahinya OBE (Officer of The Order of British Empire) pada 2012.

Vivienne Westwood - Vivienne Westwood 
Tak ada nama yang lebih besar dan pantas mengisi wall of fame bidang fashion di Inggris, selain Dame Vivienne Westwood. Fashion designer kelahiran 1941 ini adalah senior yang sangat dihormati dan masih aktif produktif di usianya yang menginjak 75 tahun.
Vivienne Westwood memulai karirnya dengan mendesain baju untuk sebuah butik di King’s Road tahun 1970an lalu mendirikan label atas namanya sendiri, Vivienne Westwood di tahun 1971. Westwood lah yang bertanggungjawab atas munculnya gaya punk fashion yang mewabah di tahun 1970an di seluruh dunia. Kepaiawaiannya mengawinkan musik dan fashion serta injeksi ekspresif sarat kritik sosial mengantarkannya menjadi pribadi paling dihormati publik fashion.
Westwood pun memadukan teknik jahitan dan pola-pola pakaian gaya abad 17 dan 18 yang didekonstruksi ulang sehingga menciptakan bentuk-bentuk baru. Seringkali karyanya punya tema khusus dalam merespon fenomena sosial. Westwood adalah aktivis politik yang mempromosikan kebebasan berpendapat di Inggris. Lalu menjadi aktivis lingkungan dan anti nuklir. Semuanya dituangkan dalam karya-karyanya yang tidak biasa namun jenius.
British of Fashion Council menganugerahinya Designer of The Year Award pada 1990, 1990, dan 2006.

Mary Katrantzou - Mary Katrantzou
Disebut sebagai yang paling cemerlang di generasinya, tampaknya adalah bukti keberhasilan Mary Katrantzou menaklukkan dunia fashion. Berbasis di Inggris, Katrantxou adalah keturunan Yunani yang awalnya menekuni studi arsitektur di Amerika dan melanjutkan pendidikan fashion di WSentral Saint Martin London.
Desainer kelahiran 1983 ini mendirikan label atas namanya sendiri, Mary Katrantzou di tahun 2008 dan sukses mencuri perhatian dunia. Desainnya khas dengan print digital yang unik dan siluet yang terstruktur. Walaupun akhir-akhir estetik Katrantzou bergeser dari mengexplorasi print ke penggunaan textile khusus, gaya desiannya tetap unik dan khas.
Prestasi Mary Katrantzou sangat membanggakan. Mendapat penghargaan Emerging Talent in Womenswear dari British Fashion Council di tahun 2010, setelah sebelumnya memenangkan NEWGEN Fashion Funding di 2009 dan kemudian di tahun 2015 mendapatkan BFC x Vogue Fashion Fund.
Kini karya-karyanya daopat ditemukan di 250 retailer di seluruh dunia dan dipakai oleh para selebritis di berbagai event red carpet.



NEW YORK

Michael Kors - Michael Kors
Michael Kors mungkin dikenal sebagai salah satu juri dan mentor di reality show fashion Project Runway bersama Heidi Klum. Namun sejatinya Kors adalah New York dan sportswear.
Begitulah kebanyakan fashion editor menggambarkan Michael Kors. Desainer yang lahir pada 9 Agustus 1959 ini percaya pada prinsip sportswear dan seksi bisa ada dalam sebuah baju. Dan tampaknya dia berhasil mewujudkan visinya dengan sangat baik.
Mengawali karir di fashion pada label Celine. Kors kemudian mengeluarkan debut koleksi perdananya tahun 1984 yang langsung mendapat kritikan positif dan pujian dari para fashion editor.
Baju-bajunya sangat mudah dipakai, tampak seksi, namun nyaman tanpa terkesan terlalu feminin maupun sensual. Semuanya dilengkapi asesoris, tas dan sepatu dengan mood sama yang makin mempertegas siapa kliennya.
Di tahun 2010 Michael Kors dianugerah Lifetime Achievement Award oleh CFDA. Pada 2013 majalah Time memasukkannya dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia. Dia juga ditunnjuk Global Ambassador Against Hunger oleh FAO, badan PBB yang mengurusi masalah pangan.

Alexander Wang - Alexander Wang
Alexander Wang mendirikan label atas namanya sendiri di tahyn 2005 di usianya yang baru 21 tahun! Street style yang mewabah 3 tahun terakhir ini, boleh dikatakan adalah sebagian dari kesuksesannya di dunia fashion.
Menjadi pemenang CFDA-Vogue Fashion Fund Award di 2008, Wang mendapat bimbingan langsung dari Anna Wintour yang membuat koleksinya mendapat pujian baik dari fashion editor maupun penerimaan pasar yang baik. Garis desain wang sangat urban, dengan penggunaan warna-warna gelap dengan sentuhan warna-warna terang neon.
Pada 2012, Wang ditunjuk mejadi creative director Balenciaga, koleksinya diterima positi, namun hanya berlangsung singkat, Wang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dan fokus pada labelnya sendiri.
Bagi anak muda penggemar street style, baju-baju koleksi Alexander Wang adalah fashion item yang wajib dibeli!

Carolina Herrera - Carolina Herrera
Lahir di Venezuela pada 1937, Carolina Herrera adalah desainer senior Amerika yang sangat berpengaruh. Awal karirnya justru bukan dimulai dari menjadi desainer, namun menjadi publisis bagi rumah mode Pucci.
Butuh waktu yang cukup lama bagi Herrera untuk memutuskan mendirikan label fashion atas namanya sendiri. Semua ini adalah hasil dari saran Diana Vreeland, editor in chief Vogue waktu itu.
Garis desain dan estetisnya selalu dikenal sebagai dramatis dan sartorial. Dengan gaun dan rok besar sebagai ciri khasnya dan potongan kerah kemeja pada gaun-gaunnya.
Carolina Herrera juga dikenal dengan label busana pengantinnya yang digilai banyak wanita.

Diane Von Furstenberg - DVF
1974 menjadi tahun yang bersejarah bagi Diane. Di tahun itulah pertama kalinya dia mengeluarkan koleksi wrap dress yang nantinya akan dikenal sebagi ciri khasnya serta sukses melambungkan namanya.
Diane adalah seorang Putri dari Kerajaan Belgia yang kemudian menetap di Amerika. Menjabat sebagai Presiden CFDA (Council Fashion Designer of America) sejak 2006 hingga sekarang membuat Diane mendedikasikan sepenuh hidupnya untuk fashion. Melalui banyak program yang dibuatnya baik bersama Vogue maupaun bersama Swarovsky, Diane terus mendukung industri fashion Amerika dan membantu mengangkat desainer-desainer muda.
Gaya desainnya mudah dipakai, cocok untuk berbagai ukuran wanita dan fungsional untuk berbagai kesempatan. Penggunaan warna-warna yang sangat menonjolkan sisi wanita seperti ungu, oranye, pink dan hijau membuat desainnya makin menarik. Selain wrap dress nya, Diane von Furstenberg juga dikenal dengan maxi dressnya. Mungkin itulah yang membuat labelnya begitu dicintai publik fashion Amerika.

MILAN

Domenico Dolce & Stefano Gabbana - Dolce & Gabbana
Domenico dan Stefano adalah duo fashion desainer paling dikenal di dunia. Melalui label yang mereka dirikan sejak tahun 1985, Dolce & Gabbana, mereka tak hanya menguasai pasar Italia, namun juga Eropa bahkan pengaruhnya terasa sampai Asia.
Stefano lahir di Milan pada 1952 dan Domenico lahir di Sicilia pada 1958. Akar budaya Sicilia yang kuat lah yang berpengaruh besar pada label mereka. Tak hanya melalui garis desain dan estetik, namun ditunjukkan dalam setiap fashion show hingga iklan-iklan mereka di media masa.
Dolce & Gabbana membuat pakaian untum semua wanita dan keluarga. Gaya desain mereka diidentifikasi sebagai seksi namun sopan. Dengan penggunaan material brokat, motif kulit hewan, dan sedikitnya bagian tubuh yang terekspos. Selain lini busana wanita, D&G juga unggul dalam lini asesoris, baik tas maupun sepatu, busana pria, hingga pakaian anak-anak. Bahkan beberapa terakhir ini mereka merilis koleksi alta moda atau Italian haute couture.
Selain menguasai pasar Italia dan Eropa, D&G adalah label fashion barat yang jeli melihat potensi pasar. Mereka adalah yang pertama merilis koleksi modest wear atau busana yang lebih sopan dan tertutup untuk kalangan pemakai muslimwear bagi pasar Timur Tengah. Dan jangan lupakan fakta bahwa Dolce & Gabbana adalah yang bertanggung jawab mendandani para pemain sepakbola AC Milan dalam setelan yang elegan.
Pada 2003, Domenico dan Stefano memutuskan untuk berpisah dan mengakhiri hubungan pribadinya, namun dengan profesional masih menjalankan label bersama mereka hingga kini.  


Donatella Versace - Versace
Sejak 1997, Donatella Versace memegang posisi creative director sekaligus vice president dari label Italia paling berkembang ini. Semua berawal dari menggantikan posisi kakaknya, Gianni Versace, sang pendiri yang tewas terbunuh.
Sekarang Versace tak hanya bermain di lini busana wanita dan pria, namun juga untuk pasar yang lebih muda melalui label Versus Versace, dan lini haute couture pada Atelier Versace. Selain itu Versace juga memiliki lini asesoris dan parfum, serta menaungi usaha home living dan jaringan hotel.
Melalui visinya yang kuat, Donatella yang sekarang ebrusia 61 tahun, menunjuk Christopher Kane, lalu JW Anderson dan kemudia Anthony Vaccarello untuk berkolaborasi membuat koleksi kapsul yang laku terjual di seluruh dunia.
Figur Donatella memang unik dan dikenal menjalani operasi plastik beberapa kali sehingga mukanya memiliki tampuilan khas. Namun lebih dari sekedar fashion desainer, Donatella adalah seorang philantropis sejati yang mendonasikan keuntungan perusahaannya untuk riset HIV/AIDS.  

Miuccia Prada - Prada
Sebelum Miuccia Prada ikut turun tangan, bisnis keluarganya hanyalah barang-barang mewah dari kulit. Kemudian, Miuccia mengubahnya menjadi label busana wanita paling kuat di dunia sejak 1988.
Prada sendiri pertama kali didirikan tahun 1913 oleh Mario Prada yang adalah kakek dari Miuccia Prada. Miuccia mulai ikut mendesain tas punggung dari bahan kulit yang kemudian hari menjadi sangat terkenal dan laku di pasaran.
Miuccia sendiri adalah peraih gelar PhD di bidang politik dan sebelumnya aktivis partai komunis. Hal itulah yang membuat koleksi prada selalu kuat dengan kritik politik dan sosial, kesetaraan, serta feminisme.
Tahun 1993, Miuccia melaunching label keduanya, Miu Miu dan kemudian di tahun 1995, koleksi busana pria untuk Prada pertama kali dirilis.
Prada bukan sekedar busana, namun sudah berubah menjadi identidas yang begitu kuat. Sekuat Miuccia yang disebut Forbes dalam 75 wanita paling berpengaruh di dunia tahun 2014.

Alessandro Michele - Gucci
Mungkin belum banyak yang mengenal sosok Alessandro Michele, sang creative director Gucci. Tapi pria ini lah yang bertanggung jawab pada perubahan besar yang terjadi pada rumah mode yang berdiri sejak 1921 di Florence, Italia.
Walaupun mungkin namanya baru dikenal publik sejak penunjukannya sebagai creative director Januari tahun lalu, Michele punya sejarah panjang di Gucci. Berawal dari tahun 2002 saat Tom Ford (creative director Gucci saat itu) menunjuk Michele untuk menjalankan kantor dan studio Gucci di Inggris, diikuti penunjukkannya sebagai desainer asesoris Gucci pada 2006, dan kemudian menjadi tangan kanan Frida Giannini.
Pria yang lahir 44 tahun lalu di Roma ini dikenal memiliki gaya desain yang khas. Sebagian besar orang meyebut gaya desainnya sebagai ekletik dan bohemian glamour. Tak takut mengeksplorasi warna dan siluet baru. Serta penggunaan aksen gaya dekade 60an dan 70an yang kental . Di tangannya, Gucci yang sempat mengalami kelesuan, kembali menjadi favorit para fashion editor dan tentu saja para pelanggan. Kenyataan bahwa Gucci adalah brand terbesar yang dimiliki perusahaan raksasa Kering (dulunya PPR) membuat posisi creative director Gucci selalu menjadi perbincangan.


PARIS

Nicolas Ghesquiere - Louis Vuitton
Di tahun 2012 publik dibuat patah hati oleh keluarnya Marc Jacobs dari brand luxury raksasa Louis Vuitton. Namun kesedihan itu tak bertahan lama. LVMH, group perusahaan yang menaungi Louis Vuitton menunjuk Nicolas, si anak emas, untuk mengisi jabatan sebagai creative director.
Nicolas Ghesquire, yang lahir di Perancis tahun 1971, sebelumnya sukses menggawangi rumah mode Balenciaga dikenal dengan karya-karya estetiknya yang futuristik, modern, namun tidak meninggalkan kesan cantik dan superior. Nampaknya penggabungan ciri khasnya dengan DNA brand Louis Vuitton yang identik dengan travel dan journey menjadi formula yang tepat.
Louis Vuitton tetap menduduki peringkat teratas dalam pasar barang mewah. Bentuk-bentuk dan siluet baru serta improvisasi monogram LV terus dihadirkan Nicolas, sisi kreatifnya terus dipacu untuk menghasilkan, tak hanya desain, namun juga visi yang diterapkan dalam tiap fashion show dan kampanyenya. Hasilnya, International Designer Award dari CFDA berhasil dia dapatkan di tahun 2014. Dan tentu saja jangan luyupakan fakta bahwa Nicolas Ghesquire masuk dalam daftar 100 Orang paling Berpengaruh 2006 versi Majalah People.  

Karl Lagerfeld - Chanel dan Fendi
Siapa yang tak kenal sosok pria tua dengan rambut memutih dikuncir ekor kuda, mengenakan setelan hitam dan selalu bersarung tangan serta berkacamata hitam. Dialah Karl Lagerfeld, yang lahir di Jerman dan sekarang berusia 83 tahun, atau lebih tepatnya kira-kira 83 tahun, karena tahun kelahiran yang penuh misteri.
Desainer nyentrik ini adalah otak di balik kesuksesan Chanel. Selain jabatan cemerlang yang membuatnya menjadi living legend di dunia fashion, Lagerfeld dikenal sebagai pribadi super genius. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Lagerfeld mengusai bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Spanyol, Rusia, bahkan bahasa Mandarin!
Selain piawai mendesain busana, Lagerfeld dikenal sebagai seniman serba bisa. Dialah yang memotret sendiri untuk tiap editorial atau kampanye Chanel tiap musimnya, dia jugalah yang mendesain perhiasan-perhiasan yang ditampilkan dalam tiap koleksi Chanel Resort,. Bahkan Lagerfeld diakui sebagai seorang filmmaker, yang karya-karya filmnya pun sering mendapat penghargaan.
Fashion show Resort label Chanel sendiri selalu ditunggu-tunggu banyak pihak, karena selalu memilih tempat-tempat menarik di seluruh dunia (Skotlandia, Cuba, Singapura, Seoul, India, dan lain-lain), dan Lagerfeld akan menginjeksikan budaya lokal dalam sentuhan Chanel.  
Di awal karirnya, Lagerfeld adalah asisten Pierre Balmain, lalu berpindah ke Jean Patou, sebelum akhirnya menggeluti haute couture di rumah model Tiziano dan kemudian sempat berkarir di label Chloe. Sekarang selain berkarya di Chanel, Lagerfeld juga mengurus label atas namanya sendiri, Karl Lagerfeld, dan menjadi otak di label Fendi bersama Silvia Venturini Fendi.

Maria Grazia Chiuri - Dior
Chiuri membuat sejarah sebagai wanita pertama yang menempati posisi sebagai creative director di rumah mode legendaris Christian Dior. Namun jauh sebelum itu, namanya sudah dihormati atas perannya bersama partner duetnya, Pierpaolo Piccioli, sebagai creative director di rumah mode Valentino.
Estetik Chiuri meliputi, gaun-gaun ultra feminin dengan penggunaan material transparan, serta desain yang terinspirasi mitologi dan paganisme Eropa. Hasil karyanya selalu bisa diapresiasi dari craftmansship tingkat tinggi.
Dior adalah rumah mode yang memiliki cerita panjang tentang drama. Mulai dari dikeluarkannya John Galliano karena insiden anti Yahudi, dan penunjukkan Raf Simons yang sukses mengubah estetik Dior menjadi lebih sleek dan modern.
S ekarang, dengan Maria Grazia Chiuri berada di kendali kreatif, Dior sekali lagi bertransformasi. Wanita kelahiran Roma, 52 tahun lalu ini seperti menggabungkan antara clean, sleek and techno a la Raf Simons, dengan feminine and whimsical khas garis desainnya. Karya-karya Chiuri termasuk yang paling banyak muncul di red carpet karena keindahannya.


Olivier Rousteing - Balmain
Balmain menjadi nama brand yang paling banyak dibicarakan orang sepanjang dua tahun terakhir. Hal ini tak lepas dari kinerja creative directornya, Olivier Rousteing.
Rousteing (berusia 31 tahun saat ini), ditunjuk menjadi creative director saat masih berusia 24 tahun, menjadikannya yang termuda dalam sejarah. Selain tentang taste dan karyanya yang memang diakui sangat brilian, kesuksesan Rousteing membawa Balmain sejauh ini adalah karena strateginya tentang ‘Balmain Army’. Yaitu sekelompok wanita yang dipilihnya untuk merepresentasikan brand Balmain. Mereka diantaranya adalah Kim Kardashian West, Rihanna, Rosie Huntington-Whitely, dan lain-lain.
Garis desain Rousteing menciptakan image wanita Balmain yang seksi dengan bodycon dress. Serta ditambah kekuatan inspirasi militer, serta teknik embellishment dan drapping yang tanpa cela.
Keputusan Rousteing untuk berkolaborasi dengan raksasa retail Swedia, H&M pun mendapat sambutan yang luarbiasa. Balmaination, koleksinya yang dipasarkan cepat dan lebih murah, tercatat sebagai koleksi yang paling cepat habis di departement store, hanya hitungan jam! Fans fanatik Balmain bahkan rela untuk mengantri sejak 2 hari sebelum koleksinya resmi dipajang di toko.

Riccardo Tisci - Givenchy
Pria lulusan Central Saint Martin London ini memulai karir desainernya dengan bergabung bersama label olahraga Puma. Sebelum akhirnya ditunjuk menjadi creative director Givenchy pada 2005.
Sebelum berada di tangan Tisci, mungkin generasi yang lebih muda tidak mengenal label Givenchy dan pendirinya, Hubert Givenchy. Karena Tisci lah, Givenchy menjadi salah satu label favorit, bahkan oleh kebanyakan anak muda yang menggandrungi street style.
Gaya desainnya selalu identik dengan religiusitas. Kita akan melihat simbol-simbol salib, iblis dan malaikat dalam karya Tisci. Kesuksesannya menggabungkan kemewahan dengan gaya jalanan patut diacungi jempol. Siapa yang tak kenal sweater bergambar anjing Rottweiler yang menjadi trend beberapa tahun lalu. Atau atasan model oversize yang terinspirasi dari motif bendera Amerika. Bagaimana dengan nostril jewellery yang mendadak menjadi trend menghiasi hidung para wanita.
Tisci juga berkolaborasi dengan brand olahraga Nike menciptakan sepatu yang diburu para penggemar fanatiknya. Namun selain kepiawaiannya dalam menggaet pasar yang lebih luas, craftmansship Tisci di lini haute couture juga tak bisa dipandang sebelah mata.
Kini Tisci telah hampir 17 tahun menggawangi rumah mode Givenchy, dan berbagai penghargaan telah disabetnya. Diantaranya, International Designer Award 2013. Prestasi lainnya, Tisci adalah orang yang bertanggung jawab mendandani Rihanna di setiap konsernya.

ASIA

Rei Kawakubo - Commes des Garcons
Berbeda dari kebanyakan fashion desainer yang menempuh pendidikan khusus fashion, Kawakubo, yang kini berusia 72 tahun, adalah lulusan jurusan seni murni dan sastra di Keio University, Jepang. Karir pertamanya adalah ssebagai penata gaya bagian periklanan di sebuah perusahaan tekstil.
Justru latar belakangnya yang unik ini membuat desainnya sangat unik dan tidak biasa. Para editor fashion menjuluki gaya busananya sebagai Hiroshima Chic, mengambil referensi dari pengeboman Hiroshima yang mengindikasikan ketiadakteraturan namun tetap chic dan menarik untuk dipandang dan dikenakan.
Sebagian lain menyebut desainnya anti-fashion karena keridakteraturan bentuk. Karyanya identik dengan warna-warna gelap (hitam, abu-abu), melibatkan teknik drapping, potongan asimetris, detail-detail unfinished, serta detail fringe. Saat kita melihat fashion shownya, kita seakan dibawa ke dunia lain, dimana fashion adalah kebebasan berekspresi.
Commes des Garcons sendiri didirikannya pada tahun 1973 dan langsung menjadi sensasi luar biasa di dunia fashion. Kabar terbaru mengatakan, tahun 2017, Metropolitan Museum akan mengadakan tribute pameran untuknya yang ditunggu-tunggu semua orang.

Yohji Yamamoto - Yohji Yamamoto / Y-3
Disebut sebagai living legend dalam fashion. Yohji Yamamoto lahir di Jepang tahun 1943 dan mengambil pendidikan hukum di universitas. Pendidikan fashion diambilnya kemudian di Bunka Fashion College.
Yamamoto disebut sebagai yang paling sukses meletakkan gaya avant-garde dan estetik Jepang dalam karya-karyanya. Penggunaan warna hitam yang konstan, siluet over-sized dan penggunaan teknik drapping dan pleating menjadi ciri khasnya.
Pada tahun 2003, melalui label keduanya, Y’s, Yamamoto berkolaborasi dengan raksasa sportswear, Adidas, dan menciptakan label Y-3 yang sukses melejit dan menjadi favorit anak muda di seluruh dunia.
Penghargaan yang diraihnya anatara lain Chevalier of Ordre des Arts et des Lettres dan Royal Designer for Industry. Namun penghargaan tertinggi adalah, gaya yang diciptakan Yamamoto kini adalah gaya yang umum dipakai oleh para pecinta fashion Jepang atau yang sering dikenal sebagai Japanese Aesthetic.

Jimmy Choo - Jimmy Choo
Mungkin tak banyak yang tahu bahwa pria dibalik merek sepatu terkenal ini berasal dari Malaysia. Nama lengkapnya adalah Datuk Jimmy Choo Yang Keat. Lahir di Penang pada 15 November 1948.
Choo adalah nama besar di industri asesoris. Merek sepatu karyanya yang berpusat di Inggris adalah satu dari sedikit sepatu premium, bersama dengan Louboutin dan Manolo Blahnik.
Sekarang brand Jimmy Choo tak terbatas pada sepatu high-end namun juga termasuk berbagai jenis tas wanita.





Prabal Gurung - Prabal Gurung
Gurung lahir di Singapura pada 1979 dari orang tua asli Nepal dan dibesarkan di Nepal. Dia adalah angkatan muda baru desainer dari Asia yang diperhitungkan dunia.
Lulusan Parson School of Design ini memilih New York Fashion Week untuk melaunching karyanya dan terbukti sukses memikat hati publik fashion, termasuk Michelle Obama, Lady Gaga, Emma Watson, dan lain-lain.
Garis desain Gurung yang feminim dipadukan dengan penggunaan warna-warna khas asia yang hangat seperti oranye dan ungu menjadi ciri khasnya.